Anisah’s Blog

Simbol-Simbol dalam Ibadah Kristen

6th March 2008

Simbol-Simbol dalam Ibadah Kristen

posted in Okultisme |

Ini merupakan simbol-simbol ibadah dalam agama Kristen

 

Alfa dan Omega
Alfa (A ) dan Omega (W ) adalah huruf pertama dan huruf terakhir alfabet Yunani dan biasanya digunakan sebagai simbol kekekalan Allah dan kuasa Kristus dari penciptaan sampai pada akhirat (Why 22:13 “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang
Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir”). Kedua huruf ini sering digabung dengan simbol-simbol lain, misalnya salib (kekekalan karya keselamatan dalam Yesus Kristus) atau Alkitab (kekekalan Firman Allah).
Air
Air adalah sumber kehidupan, tetapi sekaligus dapat mengancam kehidupan (banjir, badai di laut…). Air juga berfungsi untuk mencuci atau membersihkan.Dalam Alkitab, simbol ini sering dihubungkan dengan Allah sebagai sumber mata air
atau sumber kehidupan dan keadilan, dan dengan Yesus yang memberi air yang hidup (Yoh 4:14).Yesus juga membasuh kaki murid-muridNya dengan air sebagai tanda pelayanan dan pembersihan dari dosa. Murid-muridNya dipanggil untuk berbuat sama (Yoh 13:15). Namun ritus pembasuhan kaki masih jarang dipraktekkan dalam ibadah protestan.Air menjadi simbol inti sakramen baptisan sebagai tanda penbersihan (dari dosa, dari kuasa maut); “adam lama” ditenggelamkan dalam air baptisan, dan “adam baru” dilahirkan. Air ini juga menjadi tanda penerimaan Roh Kudus yang menyatukan kita dalam tubuh Kristus, dan tanda anugerah Allah yang dikaruniakan kepada kita tanpa prasyarat. Air disini adalah simbol yang membuat kita merasakan apa yang dilakukan oleh Allah sendiri, dan tidak dipahami secara “magis”, sehingga tidak tergantung pada kwantitas air (hanya tiga tetes “dalam nama Bapa, anak dan Roh Kudus”, atau dengan menenggelamkan seluruh tubuh seperti dipraktekkan dalam gereja mula-mula dan oleh beberapa denominasi sampai sekarang). Baptisan juga tidak berfokus pada formalitas (”masuk Kristen”) atau pertobatan manusia (seperti ditekankan dalam baptisan dewasa), tetapi pada karya keselamatan Allah sendiri (yang tentu saja tidak terbatas kepada mereka yang telah menerima ritual gereja tersebut).
Altar
Altar gereja mengingatkan baik pada tempat persembahan korban dalam Perjanjian Lama maupun pada meja perjamuan Paskah Yesus dengan murid-muridnya pada malam sebelum
ia disalibkan. Penggunaan altar baik sebagai meja perjamuan kudus maupun sebagai tempat persembahan (kolekte) masih mencerminkan makna ganda tersebut. Selain itu, altar biasanya dihias dengan simbol-simbol lain seperti salib, alkitab, lilin, bunga dsb.; Dalam arkitektur gereja, altar sering ditempatkan langsung di depan atau di bawah mimbar untuk menekankan kesatuan antara sakramen (perjamuan kudus/altar) dan firman (khotbah/mimbar).
Angka
3 127 Simbolisme angka dalam Alkitab adalah tema yang sangat luas. Disini hanya penjelasan singkat tentang beberapa angka yang sering muncul berhubungan
dengan ibadah:1 (satu): Simbol keesan Allah, kesatuan Yesus dengan Allah Bapa dan Roh Kudus, dan juga keesaan gereja dalam satu tubuh Yesus Kristus.3 (tiga): Simbol Trinitas (lihat Trinitas)4 (empat): Sering dipakai sebagai simbol keempat Injil: Matius (simbol: seorang pria), Markus (simbol: singa), Lukas (simbol: lembu kebiri) dan Yohanes (simbol: rajawali), tetapi juga untuk keempat mata angin. Empat berarti sesuatu yang utuh dan lengkap.7 (tujuh): Simbol kesempurnaan; pada hari ketujuh Allah beristirahat dan menyempurnakan penciptaan-Nya; hari sabat sebagai hari ketujuh adalah hari istirahat untuk semua ciptaan dan hari yang harus dikuduskan. Setiap tujuh tahun adalah tahun sabat dan sesudah 7 kali 7 tahun dirayakan “tahun yobel” di mana semua utang dihapus dan tanah dibagikan kembali secara adil. Paulus bicara tentang 7 anugerah Roh Kudus, dan dalam kitab wahyu angka 7 juga punya peran yang penting (7 jemaat, buku dengan 7 materai) 10 (sepuluh): Simbol kelengkapan, misalnya: kespuluh firman (Ul 5); sepuluh tulah (Kej 7-11).12 (dua belas): Simbol kelengkapan: ke-12 suku Israel, yang kemudian diwakili oleh ke-12 murid / ke-12 apostel. Angka ini sering digunakan untuk mewakili seluruh gereja.13 (tiga belas): Sering dianggap sebagai angka yang membawa malapetaka, mungkin berhubungan dengan perjamuan terakhir di mana tiga belas orang (termasuk Yudas) berkumpul di satu meja. Tetapi alkitab tidak membenarkan pemahaman magis (mis. membawa malapetaka) berhubungan dengan simbol-simbol angka. 40 (empat puluh): Simbol percobaan: Air bah berlangsung 40 hari (Kej 7); Israel dalam Eksodus berada di padang gurung selama 40 tahun (Kel); Musa tinggal di gunung Sinai selama 40 hari; setelah dibaptis Yesus berpuasa selama 40 hari dan dicobai iblis di padang gurung. Dalam kalender liturgis, keempat puluh hari sebelum paskah adalah masa puasa dan sengsara.1000 (seribu): Simbol kekekalan atau mewakili jumlah yang tidak dapat dihitung (jadi tidak dimaksud secara harafiah, mis. dalam Why 20)
Api
Simbol api punya pelbagai arti dalam alkitab. Dalam gereja api paling sering dihubungkan dengan peristiwa pentakosta, di mana api (yang tidak membakar)
menjadi simbol Roh Kudus. Api dan cahayanya juga dipandang sebagai simbol kehidupan dan pembersihan diri manusia (penghapusan dosa dlm korban kebakaran). Sebuah simbol alkitabiah yang berhubungan erat dengan api adalah abu. Ini adalah simbol penyesalan/pertobatan yang dipakai khususnya dalam tradisi katolik (ibadah masa pra paskah). Penggunaan asap dan bau wangi-wangian dalam ibadah juga terutama digunakan dalam tradisi katoloik dan ortodoks.
Ayam Jantan
Ayam jantan berkokok menyongsong fajar dan dengan demikian menjadai simbol paskah dan pengharapan eskatologis secara umum. Dalam Injil (Mat 26:69-75) Petrus diingatkan oleh
suara ayam jantan bahwa ia telah menyangkal Yesus seperti telah dinubuatNya, sehingga simbol ayam jantan yang menghias banyak gereja juga memanggil kita untuk bertobat dari praktek kehidupan yang menyangkal Yesus dan kasihNya. Ayam jantan sebagai simbol pelawanan dan kehebatan maskulin seperti ditekankan dalam beberapa budaya Indonesia (misalnya Sulawesi Selatan) tidak ada dasarnya dalam tradisi Kristen.
Bintang
Bintang (yang biasannya bersudut lima) adalah simbol astrologi yang mengingatkan kita pada orang-orang majus dari timur yang dipimpin oleh “bintang raja orang Yahudi” ke tempat kelahiran Yesus (Mat 2).
Simbol bintang ini mewakili Yesus sebagai terang, sebagai raja dan sebagai bintang kejora (bintang timur); simbol bintang paling sering digunakan dalam perayaan Natal dan Epifanias.
Bintang yang bersudut enam sebenarnya adalah “bintang penciptaan” yang mewakili keenam hari penciptaan (Kej 1) dan juga digunakan sebagai simbol “keenam sifat Allah”, yaitu kuasa, kebijaksanaan,
kemuliaan, kasih, rahmat dan keadilan. Dewasa ini, bintang tersebut lebih dikenal sebagai Bintang Daud yang digunakan sebagai simbol keagamaan Yahudi dan oleh negara Israel modern sebagai simbol politik, sehingga jarang digunakan lagi oleh orang Kristen. Bintang juga merupakan simbol penting dalam banyak agama lain (misalnya bulan dan bintang dalam Islam).
Buku
Simbol buku dalam ibadah tentu saja adalah simbol Firman Allah seperti disaksikan dalam Kitab Suci orang Kristen, yaitu Alkitab (Perjanjian Lama dan
Perjanjian Baru). Alkitab menjadi dasar semua kegiatan ibadah (bdk prinsip protestan “sola scriptura”). Namun alkitab sendiri perlu juga penafsiran yang bertanggung jawab dan kontekstual dalam ibadah, karena merupakan kesaksian manusia dan bukan Firman Allah yang langsung “jatuh dari langit”, sehingga ayat-ayatnya selalu perlu dipahami berhubungan dengan konteksnya. Dalam pemahaman Kristen, Firman Allah tidak “menjadi buku” dalam arti yang statis (biblisisme, penafsiran yang harafiah), tetapi “menjadi daging” (Yoh 1) dalam arti yang dinamis dan hidup. Artinya, Firman Allah terjadi dalam kehidupan manusia dan Alkitab adalah sumber utama untuk menemukan dan memahami relevansi Firman Allah yang hadir dalam kehidupan kita.
Domba
Domba adalah binatang yang dalam tradisi Israel sering digunakan dalam ritus korban dan terkait erat dengan liturgi paskah orang Yahudi. Dalam agama Kristen, domba (atau anak domba) menjadi simbol untuk Yesus Kristus yang melalui perkorbanan-
Nya di kayu salib menghapus dosa dunia dan menjadi sumber pendamaian antara Allah dan dunia dan antara manusia. Yesus adalah “Anak domba Allah (bhs. latin: agnus dei) yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29; bdk. Yes 53:7 tentang hamba Tuhan yang menderita). Simbol domba sering dilengkapi dengan simbol salib dan bendera kemenangan yang berarti bahwa melalui kematian dan kebangkitan Yesus telah tercapai kemenangan atas kuasa dosa dan maut (”domba paskah”). Kemenangan itu dicapai bukan dengan menggunakan kekerasan, tetapi justru melalui kelembutan, kasih, kerendahan dan penderitaan.Di sisi lain domba juga dipakai sebagai simbol untuk manusia atau umat Allah, dan Allah atau Yesus dilihat sebagai gembala yang baik (bdk Mzm 23; Yoh 10:11 dan banyak perikop yang lain). Di sini Yesus kadang-kadang digambarkan menggendong seekor anak domba (bdk “domba yang hilang” Lk 15:1-7).
Gereja

Gedung gereja bukan hanya sebuah tempat yang fungsional saja, tetapi telah menjadi sebuah simbol identitas Kristiani. Makna dari gedung gereja adalah terutama tempat beribadah, memuji Tuhan dan berjumpa dan menyadari kehadiran Allah dalam kebaktian, dan tempat pengayuban,
perdamaian dan perlindungan. Akhir-akhir ini, berhubungan dengan beberapa peristiwa pembakaran rumah ibadah di Indonesia, tercermin bahwa makna simbolis tersebut mungkin telah terlalu bergeser menjadi simbol identitas yang eksklusif, persaingan antarjemaat dan antaragama, simbol kemewahan yang tidak kontekstual atau triumfalisme gereja dan tempat formalitas agama - meskipun hal itu sangat bertentangan dengan misi Yesus dan panggilan gereja.Gereja tidak identik dengan gedungnya, tetapi gedungnya, penggunaannya dan makna yang diberikannya dalam praktek jemaat harus mencerminkan sifat dan kehadiran gereja sebagai tubuh Kristus di dunia ini. Oleh karena itu, gereja harus mencari kembali makna simbolisnya yang sebenarnya.
I
Huruf “I” dari alfabet Yunani dan Latin adalah simbol untuk Yesus dan digunakan dalam beberapa singkatan seperti: I.H.C (atau I.H.S.): Iesus Hominum Soter/Salvator - Yesus Juruselamat ManusiaINRI: (berhubungan dengan simbol salib atau mahkota duri): Iesus Nazarenus Rex Israel - Yesus dari Nasaret, Raja Israel (bdk Luk 23:38).
Ikan
Ikan mengingatkan kita bahwa murid-murid Yesus yang pertama adalah penjala ikan yang dipanggil untuk menjadi “penjala ma-
nusia” (Mat 4:19). Selain sebagai simbol untuk orang percaya ikan juga menjadi simbol kebersamaan deng-an Yesus (Mat 14/15; perjamuan dengan Kristus yang bangkit Luk 24:42; Yoh 21:12). Dalam kitab Yunus ikan adalah simbol rahmat dan keselamatan Allah.

Dalam gereja mula-mula pada masa penganiayaan orang Kristen ikan sebagai simbol untuk Kristus menjadi tanda pengenal “rahasia” orang
Kristen. Ini berdasarkan kata bahasa Yunani untuk ikan, yaitu I C Q U S (”ikhtys”), yang diinterpretasi sebagai singkatan:I = I E S O U S (”iesous”) = YesusC = C R I S T O S (”khristos”) = KristusU = U I O S (”huios”) = PutraQ = Q E O U (”theou”) = AllahS = S W T H R (”soter”) = Penyelamat,

jadi: “Yesus Kristus, Putra Allah, Juruselamat”.Lebih jarang simbol ikan ditemukan dalam bentuk tiga ikan yang membentuk sebuah lingkaran sebagai simbol untuk Allah Tritunggal (lihat “Trinitas”).
Lilin

Lilin biasanya dinyalakan dalam setiap ibadah, paling tidak pada ibadah-ibadah natal dan ibadah-ibadah paskah (lilin paskah) sebagai simbol Kristus yang hidup dan menjadi “terang dunia” (Yoh 8:12, bdk Yoh 1 dll.). Lilin juga mengingatkan kita pada panggilan untuk menjadi “garam dan
terang dunia” (Mat 5:13-16); lilin secara umum bisa menjadi simbol kehidupan manusia yang mengorbankan diri demi panggilannya untuk menerangi gegelapan. Dalam ibadah dukacita lilin juga mewakili kehidupan kekal, bahwa orang yang telah meninggal sekarang adalah di tangan Tuhan.

Keempat lilin dalam “krans adven” adalah simbol pengharapan yang menantikan kelahiran terang dunia (dalam minggu pertama adven, satu lilin dinyalakan, dalam minggu kedua dua dst.).Sementara ketujuh lilin dalam “Menorah” (yang juga menjadi simbol agama Yahudi) sering diidentifikasi dengan “ketujuh anugerah Roh” (Yes 11:2; bdk Paulus)
Lonceng
Bunyi lonceng adalah simbol perhatian dan panggilan beribadah dan juga mengingatkan akan pengadilan Allah. Lonceng digunakan baik dalam sukacita (paskah, memuji tuhan dalam ibadah…) maupun dukacita (orang meninggal,
bencana…). Secara kontekstual, lonceng juga bisa diganti oleh alat musik yang lain, misalnya alat musik tiup atau gendang
Mahkota
Mahkota digunakan sebagai simbol kemuliaan Allah dan secara khusus Yesus Kristus sebagai Raja Israel (Mesias) dan Raja dunia. Mahkota duri adalah simbol penghinaan Yesus di kayu salib (Mat 27:29) dan mengandung arti bahwa cara
berkuasa Yesus bukan seperti seorang raja duniawi dengan pedang dan kekerasan, tetapi dengan kasih yang bahkan rela untuk menderita.
Malaikat
Malaikat dalam tradisi Alkitab adalah utusan Allah yang memuji Tuhan, melindungi manusia dan menyampaikan wahyu. Malaikat dibayangkan dalam wujud manusia (sering digambarkan dengan sayap dan lingkaran cahaya di atas kepala
untuk mengindikasi sifat transenden dan kudus), tetapi tidak dimaksud sebagai person yang riil antara manusia dan Allah, melainkan sebagai simbol kehadiran, pelindungan dan campur tangan Allah dalam kehidupan kita. Pemahaman bahwa orang yang meninggal dan “masuk sorga” menjadi malaikat sering dapat ditemukan tetapi tidak berdasarkan tradisi alkitab.Setan sebagai simbol kejahatan dan kekuasaan maut kadang-kadang diinterpretasi sebagai “malaikat yang jatuh”.
Merpati
Burung merpati dalam tradisi Kristen terutama dipahami sebagai simbol kehadiran Roh Kudus yang mengingatkan kita pada peristiwa baptisan Yesus oleh Yohanis Pembabtis (Mat 3:16 bdk Mrk, Luk dan Yoh). Seekor burung merpati dengan sebuah ranting zaitun telah menjadi simbol universal untuk perdamaian dan mengingatkan pada kisah Nuh (Kej 8:11),
di mana sehelai daun zaitun menjadi tanda bahwa air bah telah surut dan simbol untuk perjanjian Allah dengan umat manusia dan segala ciptaan-Nya.Kadang-kadang, dua ekor burung merpati juga digunakan sebagai simbol cinta kasih.
Minyak
Minyak (minyak zaitun, minyak wangi atau minyak berharga lain) dalam alkitab adalah simbol berkat dan pemberian otoritas oleh Allah misalnya dalam ritus pentahbisan raja Israel. Minyak juga digunakan untuk
meminyaki orang mati. Kedua arti ini merupakan latar belakang simbolis waktu Yesus diurapi oleh seorang perempuan (Mat 26:7) dan para perempuan ingin meminyaki jenazah Yesus. Minyak juga mingingatkan kita pada perumpamaan tentang gadis-gadis yang bijaksana dan yang bodoh (Mat 25; minyak untuk pelita sebagai simbol kesiapan untuk kedatangan Yesus).Dalam ibadah (atau pelayanan kepada orang sakit, minyak sebagai simbol berkat kebanyakan digunakan dalam tradisi katolik, tetapi kadang-kadang juga dalam ibadah protestan atau ekumenis.
Padi - Beras - Nasi
Padi atau beras dalam banyak budaya Asia tidak hanya menjadi makanan pokok, tetapi juga simbol yang berhubungan dengan mitos-mitos penciptaan manusia dan hubungan kosmis antara manusia dengan alam semesta dan dengan kekuatan-kekuatan transenden (misalnya dlm mitos Dewi Sri diari Jawa). Nasi (misalnya dalam bentuk Tumpengan) juga menjadi unsur pokok dalam beberapa ritus adat, misalnya
dalam ucapan sukur sesudah panen (bdk selametan, ritus makan bersama sebagai tanda kesatuan antarmanusia dan dengan yang ilahi).Dalam rangka kontekstualisasi, banyak gereja di Asia telah menggunakan unsur tradisional ini. Untuk kebaktian syukur panen, altar didekorasi dengan padi dan beras sebagai persembahan syukur. Nasi dipakai dalam makan bersama secara ritual, misalnya dalam rangka perjamuan kasih (agape) atau bahkan untuk mengganti roti dalam perjamuan kudus.
Pelangi
Pelangi - fenomena alam refleksi sinar matahari dalam tetes-tetes air hujan - adalah simbol perdamaian yang mengingatkan pada kisah Nuh
di mana “busur Allah” menjadi tanda perjanjian Allah dengan umat manusia dan segala makhluk ciptaan-Nya (Kej 9:13) yang tidak akan dilupakan lagi. Pelangi yang warna-warni sering juga diinterpretasi sebagai kesatuan dalam kepelbagaian atau keindahan pluralitas dan perbedaan yang diciptakan Tuhan.
Perahu
Perahu (atau kapal) adalah simbol yang lama untuk jemaat atau gereja dan bahkan sangat mempengaruhi arkitektur gedung-gedung gereja. Gereja dilihat sebagai persekutuan yang berada dalam perjalan yang jauh di tengah-tengah pergumulan
dan “ombak-ombak” zamannya menuju “pelabuhan” Kerajaan Allah. Kisah Nuh (Kej 6-9: bahtera Nuh sebagai simbol keselamatan dan perjanjian Allah) dan kisah tengan Yesus yang meredakan angin ribut (Mrk 4:35-41) memberi kepercayaan bahwa Allah senantiasa melindungi perjalanan ini dan Yesus tetap berada di tengah-tengah mereka.

Sejak bapak gereja Ambrosius dan sampai simbol “oikumene” (Dewan Gereja-gereja Sedunia, DGD), tiang perahu/kapal sering digambarkan sebagai salib, artinya Yesus Kristus menjadi kekuatan dan orientasi kita, didorong oleh “angin” Roh Kudus. Salib juga digambarkan sebagai sauh yang memberi kemantapan kepada persekutuan gereja. Simbol-simbol tersebut dan simbol laut lainnya (lihat juga “ikan”) memberi
banyak inspirasi untuk gereja-gereja di Indonesia karena sangat kontekstual.
Pohon
Pohon secara umum adalah simbol kehidupan dan dalam Alkitab (bersama dengan tumbuhan-tumbuhan lain) sering dihubungkan dengan kehidupan seseorang yang diberkati, sesuai dengan kehendak Allah dan memberi buah. Mendekorasi gereja dengan tumbuhan-tumbuhan hijau maupun bunga-bunga sebagai tanda kehidupan dan pujian atas keindahan ciptaan Allah adalah suatu hal yang sangat wajar.
Daun palem misalanya sebagai simbol penyembahan, syukur dan penghormatan kepada Tuhan mengingatkan kita pada Yesus yang dielu-elukan di Yerusalem
dengan “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel” (Yoh 12:13).
Secara khusus, pada hari natal, gereja-gereja maupun rumah-rumah dan tempat umum lainnya dihiasi dengan pohon-pohon pinus dan ranting-ranting hijau lainnya, yang didekorasi dengan lilin, bintang-bintang, buah, kapas sebagai salju dll (”pohon natal”, “pohon terang”…). Pohon pinus adalah simbol lama dalam
budaya Eropa untuk kehidupan bahkan di tengah-tengah kondisi yang sulit, karena inilah satu-satunya pohon yang daunnya tidak gugur tetapi ia tetap hijau selama musim dingin (musim salju). Simbol non-Kristen ini diangkat oleh tradisi Kristen dan dihubungkan dengan simbol-simbol lain (terang, bintang…) sebagai simbol pengharapan dan kehidupan melalui Yesus Kristus yang lahir di tengah-tengah dunia yang gelap dan tidak ramah.Pohon natal bukan semestinya sebuah pohon pinus, tetapi bisa juga pohon lain yang mewakili arti simbolis di atas. Hanya sedikit kontradiktif dengan “simbol kehidupan” jika dipakai pohon yang sudah tidak ada daunnya atau pohon dari plastik.
Roti dan Anggur
Roti dan anggur adalah makanan pokok pada zaman Yesus dan sudah mengandung arti simbolis berhubungan dengan ritus paskah orang Yahudi yang mengingatkan pada pembebasan bangsa
Israel dari perbudakan di tanah Mesir. Dalam perjamuan kudus (ekaristi), roti dan anggur diartikan sebagai tubuh dan darah Kristus. Melalui sakramen ini kita dibebaskan dari dosa (aspek pengampunan) dan didamaikan kembali dengan Allah dan dengan sesama manusia dan seluruh ciptaan (aspek rekonsiliasi) dan disatukan dalam tubuh Kristus dalam persekutuan yang melampaui batas waktu dan tempat (aspek kesatuan). Seperti anggur-anggur dan biji-biji gandum pernah
terpisah tetapi sekarang menjadi satu dalam anggur dan roti, demikian juga kita disatukan sebagai umat Allah oleh tubuh dan darah Kristus.Dalam abad pertengahan, perbedaan pendapat tentang pemahaman simbol roti dan anggur dan tentang cara kehadiran Yesus dan dalam perjamuan kudus menjadi salah satu pemicu antara gereja katolik, protestan lutheran dan protestan kalvinis. Konsensus ekumenis dewasa ini mencatat bahwa Yesus hadir secara riil dalam ritus perjamuan kudus, tetapi unsur roti dan anggur tidak boleh dipahami secara magis (yang punya kekuatan tersendiri). Menerima roti dan anggur dalam perjamuan kudus membutuhkan iman dan kesiapan untuk bertobat dan didamaikan kembali dengan Allah dan dengan sesama manusia, tetapi tidak berarti bahwa kita harus “bersih” dan “layak” di hadapan Tuhan: pemahaman dan praktek seperti itu memutarbalikkan arti, bahwa hanya oleh anugerah Allah kita sebagai orang berdosa diampuni dan diterima kembali (dalam rangka ini, beberapa praktek tentang disiplin gereja harus dipertanyakan kembali).Roti (dan anggur) juga digunakan dalam ibadah untuk “perjamuan kasih” (agape) didalamya persekutuan dalam kasih Allah dirayakan (tidak terbatas pada orang Kristen saja). Baik dalam perjamuan kudus, maupun dalam perjamuan kasih dewasa ini, roti dan anggur kadang-kadang diganti oleh makanan dan minuman yang kontekstual (misalnya nasi, air dll.; lihat juga di atas “Padi-beras-nasi”)
Salib

“Salib latin”

“Tau”

“Salib Yunani”

“Krusifiks”

“Salib Malta”

“Salib Mesir”

“Salib Keltik”

“Salib Paus”

“Salib patriark”

“Salib Yerusalem”

“Salib Kristus” (lihat juga “XP”)

“Salib Petrus”

“Salib ortodoks”

Salib adalah simbol yang paling terkenal sebagai simbol Kristiani yang menunjuk kepada kematian Yesus Kristus di kayu salib di Golgata. Bentuk historis alat eksekusi tersebut dengan kemungkinan besar adalah bentuk “T” (salib “Tau”), dan kemudian menjadi salib yang kita kenal (biasanya disebut “salib Latin”). Tanda salib atau silang telah dikenal dalam banyak budaya dan agama pra-Kristen dengan berbagai makna, a.l. kekekalan, kesempurnaan atau hubungan kosmis antara dunia dan yang transenden, tetapi juga sebagai tanda perpisahan dll.; Salib dalam tradisi Kristen menjadi simbol kematian dan kehidupan. Salib mencerminkan solidaritas Allah dengan manusia dalam penderitaan dan merupakan puncak inkarnasi atau humanisasi Allah. Sekaligus melalui pengorbanan di kayu salib Allah telah menghapus dosa dunia dan mengalahkan kuasa maut, sehingga salib menjadi simbol kemuliaan dan kebangkitan Yesus. Jika salib digambarkan dengan tubuh Kristus (disebut Krusifiks), kadang-kadang lebih ditekankan Yesus sebagai manusia yang menderita (mis. dalam masa Gotik) atau sebagai Tuhan yang telah bangkit (mis. dalam masa Romanik; salib tanpa tubuh Kristus bisa juga diartikan sebagai tanda kebangkitan: jenazah Yesus telah tiada). Tekanan yang berbeda-beda dalam simbol juga mencerminkan pemahaman teologis (”kristologi rendah” atau “kristologi tinggi”). Makna simbol salib terletak pada paradoks atau ketegangan kreatif ini yang membuat salib menjadi “kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah” (1 Kor 1:18). Salib untuk ukuran dunia adalah simbol kematian, kekerasan, penghinaan, keangkuhan, kemenangan kebencian dan akhir dari pengharapan, namun oleh Allah dijadikan simbol kehidupan, rekonsilasi, kemuliaan, merendahkan diri, kemenangan kasih yang “lemah” dan pengharapan. Dalam simbol salib terfokus karya pembebasan dan keselamatan Allah yang merupakan kemenangan untuk semua yang percaya kepadaNya. Tetapi harus diingat bahwa bukan kemenangan sesuai ukuran dan harapan manusia, tetapi kemenangan melalui solidaritas, penderitaan dan pengorbanan - sehingga sangat kontradiktif jika simbol salib digunakan sebagai simbol identitas yang eksklusif, simbol triumfalisme atau kemenangan melalui kekerasan (misalnya dalam “perang salib” atau peristiwa konflik SARA di Indonesia terakhir-akhir ini), atau sebagai alat magis (yang memberi kuasa supernatural kepada yang memakainya).Di kayu salib, Allah telah mendamaikan dunia dengan diriNya (2 Kor 5) sebagai perjanjian baru dan dasar untuk syalom atau rekonsiliasi antarmanusia dan dengan seluruh ciptaan. Oleh karena itu, kedua palang salib sering diartikan sebagai simbol pemulihan kembali relasi antara Allah dan manusia (palang vertikal = dimensi spiritual) dan antara manusia dengan sesama
manusian/ciptaan (palang horisontal = dimensi sosial). Kedua-duanya tidak dapat dipisahkan.
Simbol-simbol Adat
Budaya-budaya Indonesia sangat kaya dengan simbol-simbol yang mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan dan keterikatan dengan yang Ilahi. Praktek Gereja yang kontekstual akan mencoba untuk memahami simbol-simbol tersebut secara mendalam dan melihat maknanya dalam terang Injil. Dengan demikian, kehidupan spiritual akan sangat diperkaya. Hal ini akan melanjutkan tradisi Kristen untuk
mengangkat memaknai simbol-simbol non-Kristen guna menemukan ekspresi iman yang otentik dan relevan. Contohnya adalah rumah-rumah adat (mis. Tongkonan dalam budaya Toraja, Baruga dalam beberapa budaya Sulsel dsb.) sebagai simbol kerukunan, atau simbol yang digunakan dalam ritus-
ritus paguyuban dan rekonsiliasi (mis. lingkaran rotan “Kalo” dalam adat Tolaki-Mekonga, Tumpengan dalam adat Jawa, binatang korban dalam beberapa tradisi…).Tentu saja simbol-simbol tersebut akan ditransformasi dengan pemahaman yang menerobos eksklusivisme suku dan merespon pada karya Allah.
Tangan
Tangan bukan hanya simbol tetapi alat “bahasa tubuh” yang penting dalam ibadah.Simbol tangan bisa mewakili kuasa Allah yang menciptakan, memberkati dan melindungi (misalnya dalam gerakan berkat oleh pendeta, memecah-mecahkan dan membagi roti…), dan juga menjadi tanda kontemplasi dan komunikasi manusia baik dengan Allah (berbagai gaya tangan dalam berdoa, bertepuk tangan dengan menyanyi…) maupun antarmanusia (memberi salam, bertepuk tangan sebagai tanda penghormatan…).
Telur
Telur adalah simbol kehidupan dan kesuburan dalam banyak tradisi. Budaya Yunani, Mesir, Cina, Persia dan Romawi masing-masing mengenal tradisi untuk menukar telur sebagai hadiah pada musim semi, yang akan memberi kesuburan atau
umur yang panjang. Hal ini dihubungkan dengan kebangkitan atau “reinkarnasi” alam semesta sesudah “kematian” selama musim dingin, dan juga dengan beberapa mitos penciptaan yang mengambarkan sebutir telur sebagai awal kehidupan. Dalam tradisi Yahudi juga ada tradisi makan telur sebagai bagian dari perjamuan paskah. Dalam tradisi Kristen, simbol tersebut diberi makna sebagai simbol kebangkitan dan kehidupan dalam Yesus Kristus, dan hal ini ditekankan dengan menghiasi dan mewarnai telur dengan ornamen dan simbol lain. “Telur paskah” ini kemudian disertai banyak cerita dan tradisi lain, misalnya telur yang dibawa dan disembunyikan oleh ayam atau “kelinci paskah” (juga simbol kehidupan dan kesuburan musim semi) harus dicari oleh anak-anak.
Toga dan Stola
Toga dan stola (atau juga kolar untuk baju pendeta) sebenarnya berasal dari pakaian dinas pejabat negara (hakim dll) dalam Imperium Romanum dan di negara-negara Eropa lain, yang kemudian dicontohi oleh gereja sebagai pakaian liturgis dan dihias dengan simbol-simbol lain. Pakaian tersebut menjadi tanda bahwa orang yang memakainya dalam ibadah (pendeta,
majelis) ditahbiskan atau diberi otoritas oleh jemaat untuk tugas yang mereka lakukan dan bahwa mereka bertindak dan berbicara bukan sebagai seorang pribadi, tetapi dalam fungsi dan tangung jawab sebagai pelayan gereja. Mengingat asal kontekstual toga dan stola tersebut, secara teologis tidak ada alasan untuk menolak variasi pakaian liturgis itu misalnya sesuai dengan pakaian adat atau paling tidak diperkaya dengan unsur-unsur adat. Di satu sisi, pakaian liturgis sudah menjadi simbol identitas konfesional yang membedakan satu denominasi dari yang lain, di sisi lain ia dapat juga menjadi cermin pluralitas dan kontekstualitas dalam dunia ekumene.
Trinitas
Trinitas adalah simbol yang kadang-kadang paling sulit dipahami oleh orang Kristen sendiri. Dogma tentang Allah Tritunggal (satu dalam tiga pribadi) tidak boleh disalahpahami sebagai “tiga Tuhan” (jadi bukan: Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus; tetapi: Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus) dan tidak menuju pada definisi tentang keberadaan atau ontologi Allah secara metafisik (hal ini tidak dapat dipahami atau dijelaskan oleh manusia). Teologi Protestan lebih menafsirkan Trinitas sebagai cara Allah menyatakan diri kepada manusia (cara Allah hadir, bertindak dalam sejarah, gerakan misi Allah) dan cara bagaimana manusia bisa mengenal dan mengalami Allah yang Mahaesa dalam dunia (simbol atau nama Allah). Disini Trinitas lebih dipahami secara dinamis-historis (juga disebut “ekonomi trinitas”) dan bukan secara statis-ontologis.

Simbol denganNya Trinitas sering digambarkan antara lain adalah segitiga (atau “triangle”) yang merupakan kesatuan dari tiga segi yang sama pentingnya; kadang-kadang didalmnya digambarkan mata sebagai simbol Allah Bapa yang melihat semua yang ada di dalam hati kita dan semua yang kita lakukan. Tiga lingkaran yang terkait satu dengan yang lain berarti sifat kekal Allah Tritunggal (lingkaran yang tidak ada awalnya atau akhirnya, sebagai simbol kekekalan)
Uang
Mungkin uang dianggap sebagai hal yang terlalu “duniawi” untuk disebutkan disini, tetapi selain persembahan syukur yang mempunyai tempat yang penting dalam dalam ibadah sebagai sumber pokok untuk
kebutuhan pelayanan jemaat baik ke dalam maupun ke luar, persembahan tersebut juga mempunyai makna simbolis. Melalui persembahan uang kolekte (atau persembahan syukur dalam bentuk lain, misalnya natura dll.), kita mengucapkan syukur kepada Tuhan, melepas ketergantungan kita pada materi (tidak mengumpulkan harta di bumi, tetapi di sorga; tidak kuatir namun percaya kepada Allah; bdk Mat 6:19-34) dan berpartisipasi dalam tanggung jawab panggilan gereja. Makna persembahan terletak pada sikap dan ketulusan hati dengannya kita memberi (bdk. janda yang miskin Mrk 12:42), sehingga bertentangan dengan makna tersebut baik jika pemberian sumbangan “dipaksa-paksa”, maupun jika kita hanya memberi “sisa uang kecil” (orientasi gereja mula-mula adalah: 10% dari semua pendapatan untuk pelayanan
gereja/solidaritas kemanusiaan).Persembahan diberi “kepada Tuhan” tetapi tidak berarti bahwa penggunaan uang itu tidak harus dipertanggungjawabkan lagi terhadap manusia. Sebaliknya, makna simbolis tersebut memberi tanggung jawab dan beban yang lebih besar untuk mengelola dana tersebut secara transparen, jujur dan hanya untuk tujuannya yang sebenarnya. Harus juga diperhatikan bahwa sangat mengurangi makna simbolis persembahan syukur jika hasilnya hanya digunakan untuk kebutuhan di dalam jemaat kita sendiri dan bukan untuk pelayanan ke luar.
Warna
Setiap budaya memberi makna yang berbeda-beda pada warna-warna tertentu, yang dapat juga menjadi simbol dalam ibadah. Adapun beberapa warna yang dikenal secara umum sebagai warna liturgis:Hijau: Simbol kehidupan (tumbuhan, alam) dan kemenangan atas maut (warna liturgus untuk masa Epifanias dan sesudah hari raya Trinitas)Hitam: Simbol kematian dan duka (warna liturgis untuk Jumat Agung)Merah: warna darah dan juga warna api; sebagai warna liturgis digunakan untuk mengingat para martir Kristen maupun sebagai simbol Roh Kudus (warna liturgis untuk Pentakosta dan hari-hari raya gereja) Putih: simbol kemurnian, kebersihan dan kesucian; warna liturgis untuk Paskah, Natal, hari raya Trinitas dan Baptisan.Ungu: Simbol pertobatan dan juga warna kerajaan. Warna liturgis untuk masa Adven dan Sengsara. Juga dikenal sebagai simbol gereja Protestan.
XP

 

 

 

Simbol ini adalah simbol lama untuk Kristus (dan juga untuk orang Kristen) yang dibentuk dari dua huruf pertama nama “Kristus” dalam bahasa Yunani, yaitu C R I S T O S . (C dibaca “kh”, R dibaca “r”). Simbol ini dalam beberapa variasi kemudian sering disebut “salib/silang Kristus” (”cross of Christ”)

disusun oleh Pdt. Markus Hildebrandt Rambe M.Th.

Baca Juga:

  • Gambar Kambing “Mendes” Peninggalan Mesir Kuno
  • Obelisk
  • Baphomet
  • Kepercayaan Qabala
  • Perang Salib
  • This entry was posted on Thursday, March 6th, 2008 at 3:20 pm and is filed under Okultisme. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

    There are currently 2 responses to “Simbol-Simbol dalam Ibadah Kristen”

    Why not let us know what you think by adding your own comment! Your opinion is as valid as anyone elses, so come on... let us know what you think.

    1. 1 On April 16th, 2008, zulkhaidir said:

      Simbol hanyalah sebuah simbol dan tidak akan berarti apa-apa, jika kita hanya beribadah kepada Allah SWT.

    2. 2 On June 17th, 2008, RIKE said:

      yahudi &kristen bau tai !

    Leave a Reply